Rita Paidong yang dicari hingga didatangi  ke rumahnya. / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES
Rita Paidong yang dicari hingga didatangi ke rumahnya. / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES

Puluhan orang yang mayoritas perempuan mendatangi rumah seorang bandar arisan online di Desa Trenceng, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung. Mereka geram lantaran uang arisan yang dibawa Rita Apriliani (23), warga RT 2 RW 2 Dusun Cangkring, Desa Trenceng.

"Dia dikenal dengan nama Rita Paidong, menyelenggarakan arisan sistem sekali bayar dan model sesuai urutan dan dijanjikan laba," kata ES (28), salah satu korban, Senin (10/02) siang. 

Korban bukan hanya berasal dari Desa Trenceng dan sekitarnya. Menurut ES, korban berasal dari berbagai daerah, yang bahkan sampai luar kota.

"Jumlah uang yang disetor variatif. Semua percaya dengan apa yang disampaikan Rita. Dia menghubungi kami melalui chat dan memasukkan kami di grup arisan itu," ujarnya.

Lantaran ada janji mendapatkan keuntungan yang banyak, para member arisan menyetorkan uang hingga ratusan rupiah untuk mendapatkan laba. Dari data 139 orang yang mengaku korban, ada angka yang cukup fantastis, yakni di atas Rp 400 juta. Semua uang telah dibawa Rita.

Modus yang digunakan Rita ada dua. Pertama sebagai donatur yang tiap Rp 10 juta per dua minggu akan mendapatkan keuntungan sebesar 2 juta rupiah. Sedangkan untuk peserta arisan, sesuai dengan nomor urut. Jika nomornya di bawah, maka uang yang harus dibayar peserta makin kecil atau makin murah.

Informasi yang dihimpun, arisan berjalan sejak 2018 lalu. Awalnya semua berjalan dengan baik. Namun, sejak dua minggu belakangan ini, beberapa kali pembayaran mundur dan bahkan akhirnya tidak dibayar atau macet.

Karena tidak pernah lagi dapat dihubungi dan ditemui, puluhan orang datang ke rumah Rita untuk meminta pertanggungjawaban. "Orangnya tidak ada. Katanya malah jarang pulang dan orang tuanya mengaku lepas tangan sambil menangis," cerita YN, korban lainnya.

Di Kelurahan Kepatihan, Rita menyewa rumah dalam menjalankan arisan yang akhirnya menghebohkan tersebut.

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Sumbergempol AKP Nengah Suteja mengaku belum menerima adanya laporan terkait arisan online yang dimaksud. "Tidak. Kami tidak menerima laporan adanya kejadian itu," kata Suteja.

Karena belum ada laporan, polisi belum bisa melakukan langkah hukum atas kejadian yang merugikan ratusan orang dengan nilai kerugian mencapai hingga Rp 2,5 miliar tersebut.