Sejumlah anak terlihat belajar dengan menggunakan satu HP untuk digunakan bersama-sama saat jam belajar daring dimulai. (Foto : Adi Rosul  / JombangTIMES)
Sejumlah anak terlihat belajar dengan menggunakan satu HP untuk digunakan bersama-sama saat jam belajar daring dimulai. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Selama masa pandemi covid-19 ini, para siswa didik dituntut untuk belajar dari rumah melalui sistem daring. Namun, kondisi serba keterbatasan dialami oleh sejumlah siswa sekolah dasar di Jombang. Mulai join perangkat smartphone hingga numpang jaringan internet ke rumah warga, menjadi rutinitas para pelajar di wilayah pelosok kota santri.

Kondisi serba keterbatasan di dalam belajar daring ini dialami oleh sejumlah siswa sekolah dasar di Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Jombang. Seperti yang terlihat di rumah milik Sekretaris Desa Marmoyo, Sumandi ini.

Baca Juga : Perempuan Ingin Kuliah di Perguruan Tinggi Arab Saudi, KBRI Riyadh: Harus Ada Muhrim!

Di rumah Sumandi, terlihat sedikitnya ada 5 siswa SDN Marmoyo yang sedang menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring. Satu di antaranya adalah anak Sumandi, Adam Malis Muhtar yang duduk di bangku kelas 2 SDN Marmoyo.

Namun, ada yang menarik di dalam proses belajar kelima pelajar ini. Terlihat di meja tempat lima siswa ini belajar, hanya ada satu perangkat smartphone yang digunakan untuk berlima.

Lima pelajar tersebut saling menyimak materi yang diberikan gurunya melalui smartphone yang diletakkan di atas meja. Terkadang, mereka juga saling menarik perangkat telepon pintar itu agar bisa melihat dengan jelas materi pelajaran yang diberikan gurunya.

Ke lima siswa itu salah satunya adalah Karin Madu Lestari, pelajar kelas 2 SDN Marmoyo. Karin terpaksa numpang di rumah Sumandi karena tidak memiliki smartphone untuk digunakan belajar. Padahal, seluruh tugas dan materi belajar disampaikan gurunya melalui online.

"Ini belajar kelompok karena tidak punya HP (Handphone). HP-nya milik mas Adam (Adam, anak Sumandi)," ucapnya kepada wartawan di rumah Sumandi, Rabu (22/7).

Meski belajar dilakukan secara berkelompok dengan menggunakan satu perangkat smartphone, Karin mengaku tidak kesulitan. Dia malah merasa senang bisa belajar kelompok bersama teman satu kelasnya. "Tidak (sulit, red). Ini tadi belajar tematik, menggambar simbol-simbol Pancasila," kata Karin.

Senada dengan Karin, teman satu kelasnya Vebria Kristanti Pratama juga kondisinya sama. Siswa ini, juga numpang di rumah Sumandi untuk belajar melalui smartphone miliknya.

Pelajar yang dipanggil Veve oleh teman-temannya ini, mengaku setiap hari numpang di rumah Sumandi sejak awal tahun ajaran baru dimulai, Senin (13/7). Ia selalu belajar kelompok melalui smartphone milik Sumandi bersama keempat temannya, termasuk anak Sumandi.

"Tidak punya HP jadi, belajar kelompok. Sudah sejak awal masuk sekolah," ungkapnya.

Sumandi membenarkan beberapa siswa SDN Marmoyo kerap belajar di rumahnya melalui smartphone miliknya. Mereka belajar bersama putra pertamanya, Adam Malis Muhtar. 

Baca Juga : Murid Sedikit, 28 SD di Tulungagung Dimerger jadi 14 Sekolah

Karena menggunakan handphone miliknya, tak jarang Sekdes Marmoyo ini menghampiri rumah siswa untuk memberitahu bilamana ada tugas dari sekolah.

"Kebetulan yang kelas dua itu kan banyak yang gak punya HP ya. Ya gak papa lah, nomer kita yang dimasukkan di grup SD (grup WhatsApp SDN Marmoyo, red). Kan tetangga dekat, jadi kalau ada pelajaran ya kita sampaikan ke rumahnya," ujarnya.

Desa Marmoyo ini terbilang cukup terpencil, karena harus melalui kawasan hutan milik Perhutani untuk bisa mencapai desa berpenduduk 1.100 jiwa ini. Karena wilayah yang dikelilingi hutan, masalah jaringan internet dari provider seluler tidak bisa menjangkau desa itu.

Untuk mengakses jaringan internet, para pelajar di desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan dan Bojonegoro itu, harus numpang di kantor desa atau pun rumah warga yang memiliki WiFi.

"Desa Marmoyo ini memang terkendala sinyal, tidak ada jaringan. Yang bisa diakses hanya melalui WiFi," terang Sumandi.

Di Desa Marmoyo itu, akses internet melalui WiFi hanya ada di kantor desa dan 10 rumah warga, termasuk rumah Sumandi. Oleh karena itu, di waktu jam sekolah, banyak siswa yang berkumpul di titik WiFi untuk melakukan kegiatan belajar online.

"Bulan ini sudah ada 10 titik WiFi. Kalau bulan lalu mereka kumpul bareng di kantor desa untuk belajar. Biasanya pagi jam 8, itu kalau SD. Kalau yang SMP nanti siang. Sudah dua bulan ini selama Covid-19," ucapnya.

Untuk akses internet pun tidak dibatasi. Semua jaringan WiFi diberikan oleh pemiliknya secara gratis. "Awalnya semua kan kumpul di balai desa, akhirnya sinyalnya gak muat. Jadi kita tawarkan yang mau ke rumah silahkan Wifi-nya gak pakai sandi, semuanya bebas di setiap rumah yang pasang WiFi. Saling membantu lah orang-orang di desa sini," pungkasnya.(*)