Hasil olahan batu hias dari masyarakat Kampung Sanan (Hendra Saputra)
Hasil olahan batu hias dari masyarakat Kampung Sanan (Hendra Saputra)

Kampung Sanan yang menjadi ikon daerah oleh-oleh khas Kota Malang dengan racikan kripik tempe-nya, kini akan semakin lengkap. Pasalnya, Sanan akan memiliki ikon lain, selain keripik tempe, yaitu batu hias.

Batu hias rencananya akan jadi souvenir baru dari Kampung Sanan. Berdampingan dengan keripik tempe dan jenis makanan olahan warga lainnya yang duluan dikenal publik atau wisatawan.

Baca Juga : Ponpes Manarul Qur’an Lumajang Hidupkan Koperasi dan Produksi Makanan Olahan

Untuk mewujudkan hal tersebut, warga daerah Sanan menggandeng para dosen Universitas Negeri Malang (UM) dan juga para mahasiswa dari jurusan seni rupa, desain dan sastra untuk memberikan pelatihan dalam membuat souvenir batu hias.

"Batu kali ini kalau kita lihat sekilas, pasti tidak ada nilainya. Tapi di sini kita beri sedikit sentuhan seni, hingga batu kali ini bisa menjadi nilai tambah ekonomi. Apalagi batu ini kan mudah kita dapatkan," terang ketua tim pengabdian kepada masyarakat (PKM) Anak Agung Gde Rai Arimbawa.

Agung mengaku, pihak UM yang melakukan kegiatan PKM ini bertujuan untuk memberikan sebuah pelatihan dan memberdayakan masyarakat Sanan supaya memiliki inovasi selain pengolahan keripik tempe yang menjadi ikon oleh-oleh khas Kota Malang.

"Harapan kami sebagai tim PKM dari UM, memberdayakan masyarakat supaya ada kegiatan lebih untuk melayani wisatawan yang datang ke sini. Ini kan sudah terkenal sebagai desa edukatif, namun kan belum punya souvenir yang menjadi ciri khas. Batu hias ini nanti akan menjadi souvenir khas Sanan. Kita nanti akan beli label Sanan," tambahnya.

Batu kali sendiri memiliki media yang berlengkuk, sehingga pihaknya menambahkan batu ubin untuk mempermudah menghiasnya. "Karena bidangnya yang datar, itu akan lebih mudah untuk dilukis," kata Agung.

Untuk harganya sendiri, Agung mengaku sementara masih mematok harga mulai Rp 10 ribu. Untuk produksi masih terbatas saat ini. "Kalau nanti minatnya tinggi, kita akan produksi massal dan itu bisa kita tekan harganya. Souvenir ini kan dibuat oleh tangan, jadi nilai seninya sangat tinggi," ucap Agung.

Sementara itu, Koordinator Peserta Pelatihan Trinil Tri Wahyuni, menyampaikan, para peserta ini sebelumnya berprofesi sebagai tukang bungkus dan tidak memproduksi tempe, sehingga bisa memiliki nilai tambah ekonomi sendiri.

Baca Juga : Pandemi Covid-19, Omzet Penjual Ikan Cupang Naik 50 Persen

"Ini kan ada 20 ibu-ibu peserta. Dalam kurun waktu yang singkat hanya delapan kali pertemuan, mereka sudah bisa menghasilkan karya. Siapa tahu ke depan nanti di setiap RW bisa memberikan tenaganya dan nanti bisa mencapai 100 orang," ungkapnya.

Trinil menambahkan, secara teknis pembuatan batu hias ini cukup mudah. Namun masih perlu pembiasaan untuk menghias batu tersebut. Selanjutnya, batu yang sudah dihias nantinya akan dijual di gerai souvenir yang ada di Kampung Sanan. 

"Ini nanti kita jual di gerai-gerai suvenir yang ada di kampung Sanan. Meski pandemi, wisatawan yang datang masih saja ada. Apalagi kita juga pernah dikunjungi perwakilan dari 30 negara," pungkasnya.