Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, Agus Mulyono sewaktu ditemui diruang kerjanya (Foto: Syaiful Ramadhani/JatimTIMES)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, Agus Mulyono sewaktu ditemui diruang kerjanya (Foto: Syaiful Ramadhani/JatimTIMES)

Penyakit jantung memang kerap disebut sebagai silent killer, sebab bisa menyerang siapa pun dan kapan pun hingga mengakibatkan kematian.

Beberapa dekade lalu, penyakit ini memang lebih banyak dilatari faktor usia. Yakni pada pria sekitar di atas 50 tahun sementara perempuan pada usia di atas 65 tahun.

Baca Juga : Angka Kematian Covid-19 Masuk 20 Besar di Indonesia, Ini Upaya Pemkot Malang

Tapi studi terbaru menunjukkan orang-orang yang masih muda justru rentan pula terserang jantung. Mereka berusia antara 20 hingga 40 tahun.

Berikut beberapa penyebab utama adanya penyakit jantung 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Agus Mulyono mengatakan, darah tinggi bisa menjadi indikasi penyebab pembuluh darah pecah yang kemudian menyebabkan penyakit jantung terjadi.

"Penyakit ini memang tidak menular, tapi akibat perilaku kita, seketika muncul menjadi masalah penyakit jantung dan pembuluh darah. Bisa dalam bentuk penyakit koroner, dan penyakit jantung yang lain," katanya pada media ini, Kamis (01/10/2020).

Selain itu, lanjut Agus, faktor makanan juga menjadi salah satu penyebab terjadinya penyakit jantung. Misal sering mengkonsumsi jenis makanan yang berlemak, dan kurangnya olahraga.

"Bisa juga penyakit bawaan sejak lahir, misalnya ada jantung yang bocor. Penyakit jantung ini bisa diketahui jika sudah diperiksakan ke dokter spesialis jantung dan pembuluh darah," terangnya.

Dirinya pun memastikan, bahwa penyakit berbahaya dengan cara membunuh cepat adalah penyakit jantung koroner.

"Jadi memang penyakit jantung di Indonesia adalah penyakit pembunuh nomor satu dari sekian banyak penyakit, karena ini bagian dari penyakit regeneratif," ucapnya.

Untuk itu, di Kabupaten Sumenep sendiri Agus meminta, masyarakat Sumenep pada umumnya harus mengetahui ciri-ciri penyakit jantung hingga dampak ke depan.

Baca Juga : Kasus Covid-19 di Kota Malang Menurun, Masuk Zona Oranye lagi

"Di Sumenep ini memang masyarakat harus tahu ciri-ciri penyakit jantung. Semua ini harus diwaspadai. Namun untuk di Sumenep sudah ada yayasan jantung," ucap dia.

Lantas bagaimana mencegah serangan jantung?

Guna mengantisipasi dari penyakit jantung, Agus mengimbau agar masyarakat menerapkan perilaku CERDIK, (Cek Kesehatan Rutin, Enyahkan Asap Rokok, Rajin Aktivitas Fisik, Diet Seimbang, Istirahat Cukup, dan Kelola Stres)

"Jadi dengan melakukan CERDIK, kita akan terbebas dari penyakit menular, penyakit tidak menular, dan regeneratif lainnya. Oleh karena itu ini penting untuk diingatkan ke semuanya," imbaunya.

Dengan perilaku yang mendukung tersebut, sambung Agus, masyarakat bisa menjaga diri dengan cara menerapkan pola hidup sehat.

"Ke depan, seiring berjalannya waktu dan perubahan perilaku, penyakit jantung ini tidak menjadi penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia, yang awalnya tak terbaca," pungkasnya.