Depo bank sperma yang ada di BBIB Singosari (Hendra Saputra)
Depo bank sperma yang ada di BBIB Singosari (Hendra Saputra)

Di masa pandemi Covid-19, Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari yang merupakan produsen semen beku terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara tidak berhenti memproduksi dan melayani kebutuhan semen beku. Baik di dalam negeri atau pun luar negeri pada tahun 2020.

Sebagian masyarakat dimungkinkan belum mengetahui BBIB Singosari sebagai Unit Pelaksana Teknis dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian yang memiliki tugas utama sebagai produsen semen beku. 

Baca Juga : Wali Kota Malang Nimbrung Tinjau Pameran UMKM, Optimis Perekonomian Meningkat

 

Dari hasil semen beku tersebut, nantinya akan digunakan untuk proses inseminasi. Secara kualitas, semen beku produksi BBIB Singosari sudah terjamin dengan sertifikat SNI. BBIB Singosari juga telah menerapkan ISO 9001, dan ISO 17025 sehingga mengikuti standar internasional bahkan produk semen beku-nya sudah diekspor ke 9 negara di Asia dan Afrika.

Selain memproduksi semen beku, BBIB Singosari juga memberikan layanan bimbingan teknis (Bimtek) Manajemen Inseminasi Buatan. Mulai dari Bimtek Inseminator, Bimtek Pemeriksaan Kebuntingan, dan Bimtek Asisten Teknis Reproduksi. Pasalnya, BBIB Singosari juga sudah melatih tenaga inseminator dari dalam negeri. Selain itu juga banyak dari negara-negara luar yang sudah mengirimkan orang-orang mereka untuk belajar tentang peternakan di BBIB Singosari, seperti halnya Palestina, Bangladesh dan lainnya.

Lalu, apa itu semen beku? 

Semen beku adalah semen yang diencerkan sesuai prosedur proses produksi, sehingga menjadi semen beku dan disimpan dalam kontainer kriogenik berisi nitrogen cair pada suhu mencapai -196 derajat celcius. Ketika akan digunakan untuk inseminasi buatan, semen beku tersebut dicairkan dengan air hangat 37-38 derajat celcius selama 15-30 detik atau bisa disebut proses thawing.

Untuk prosesnya sendiri, BBIB Singosari sangat menjaga kualitas dari sapi yang dimilikinya, mulai dari kebersihan hingga kesehatannya. 

"Jadi sapi dimandikan dan makan, dibersihkan kandangnya lalu di bawa ke area penampungan," ujar staf informasi dan mutu semen Aldi, disela berkeliling di BBIB Singosari.

Penampungan dalam hal ini adalah tempat menampung sperma dan sapi dengan berbagai jenis. Di mana. sapi digiring ke sebuah area luas yang di sana sudah menunggu satu petugas yang membawa alat untuk menampung spermanya. 

"Untuk satu sapi ditampung (spermanya) dua kali dalam satu minggu," kata dia.

Perlu juga diketahui, di BBIB Singosari tidak ada sapi betina melainkan hanya penjantan. Lalu bagaimana proses mengeluarkan sperma tersebut? 

Aldi menjelaskan, bahwa proses penampungan sperma itu hampir sama seperti sapi yang sedang kawin, namun sapi yang didiamkan hanya sebagai pemancing agar sapi yang spermanya akan ditampung bisa segera mengeluarkan. 

"Dan proses keluarnya sperma ke 4-5 itu yang di tampung, karena paling bagus," imbuhnya.

Ditanya tentang kenapa diambil yang keluar keempat atau kelima, Aldi menyampaikan, bahwa sperma yang keluar 1-3 kali itu masih dalam keadaan encer atau belum maksimal, sehingga diambil yang keempat atau kelima. Akan tetapi, untuk menampung sperma dari satu sapi bukanlah perkara mudah. Karena 'mood' dari sapi itu sendiri berbeda-beda setiap akan ditampung.

Baca Juga : Empat Sektor Pajak di Kabupaten Malang yang Terdampak Nyata Covid-19

 

Alat yang digunakan untuk penampungan spermanya sendiri selalu dibersihkan ketika usai melakukan penampungan. Hal itu dilakukan agar ketika melakukan penampungan kembali, alat yang digunakan tetap dalam keadaan steril sehingga sperma yang ditampung juga dalam kondisi sehat.

Sapi yang ada di BBIB Singosari sendiri ada beberapa jenis, antara lain adalah Limousin, Simmental, Aberdeen Angus, Brangus, Brahman, Ongole, Madura, Bali, Friesien Holstein dan Wagyu. Setiap 6 bulan sekali, keseluruhan sapi yang ada di BBIB Singosari akan mendapatkan pemeriksaan kesehatan meski setiap harinya sudah ada dokter hewan yang standby.

"Tiap 6 bulan sekali dilakukan pemeriksaan kesehatan kepada semua sapi. Karena sapi juga tidak boleh terlalu gemuk, karena untuk menjaga kesehatan spermanya," kata Aldi.

Sementara itu, ketika masuk dalam laboratorium pun orang yang masuk harus ganti dengan pakaian yang disediakan. Hal itu karena sterilisasi tempat harus tetap terjaga. Di sana, terlihat peralatan laboratorium lengkap, mulai alat untuk mendeteksi jumlah sel, pengenceran sperma hingga packing menjadi semen beku.

Setelah melalui proses di laboratorium, semen beku tersebut akan diletakkan di depo bank sperma. Di sana ada banyak tabung berjajar yang di dalamnya adalah sperma beku yang sudah diuji di laboratorium.

Setiap tabung tersebut berisi 10 handling atau semacam pipa yang digantungkan di batang besi. Pipa tersebut berisi sperma beku yang sudah disimpan dan dikemas dalam bentuk straw atau stick. Satu straw atau stick sama dengan satu dosis yang akan buahi oleh hewan ternak atau sapi. Setiap depo berisi sebanyak 22.000 straw yang tersimpan dalam 10 pipa handling. Selain itu juga tersedia bak kontainer storage yang berisi 1 juta straw.

Bank sperma sendiri merupakan tempat penyimpanan khusus sperma sapi atau ternak sebelum dipasarkan. Sperma yang tersimpan mampu bertahan hingga puluhan tahun dengan syarat berada pada suhu stabil minus 196 derajat.

Ada beberapa warna straw yang menunjukkan bangsa/kelompok sapi atau ternak. Khusus warna kuning untuk jenis kambing PE, penghasil susu. Sementara lainnya dari keluarga sapi. Pada setiap straw tercantum kode sapi, tahun lahir sapi dan masa kegunaan straw.