JATIMTIMES - Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat dan Israel membawa dampak besar bagi perekonomian global, terutama sektor energi. Salah satu pemicu utamanya adalah penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
Dampaknya terasa hingga ke Asia. Sejumlah negara mulai mengalami krisis Bahan Bakar Minyak (BBM), bahkan ada yang sudah mengambil langkah darurat untuk menjaga stabilitas energi nasional sejak konflik memanas pada 28 Februari 2026.
Baca Juga : WFH ASN Bisa Jadi Sekadar Simbol Jika Tak Disiapkan Matang, Pakar UB Ingatkan Risiko Besar
Berikut 11 negara Asia yang terdampak krisis BBM beserta strategi yang mereka lakukan:
1. Vietnam: Kurangi Penerbangan, Cari Pasokan Baru
Vietnam menjadi salah satu negara paling terdampak. Dilansir dari CNA, maskapai Vietnam Airlines berencana menangguhkan sekitar 23 penerbangan domestik per minggu mulai 1 April karena terbatasnya bahan bakar jet.
Menurut otoritas penerbangan sipil Vietnam, kebijakan ini diambil untuk menghindari krisis lebih dalam.
Pemerintah juga mencari pasokan dari negara lain seperti Qatar, Kuwait, Aljazair, Jepang, hingga bekerja sama dengan Rusia untuk produksi energi.
2. Laos: Pangkas Pajak dan Batasi Aktivitas
Berdasarkan laporan Xinhua pada 18/3/2026, Laos mengambil langkah cepat dengan menurunkan pajak BBM, termasuk bensin dari 25% menjadi 15% dan solar hingga 0%.
Selain itu, menurut laporan Nation Thailand 23/3/2026 pemerintah mendorong kerja jarak jauh, mengurangi perjalanan dinas, hingga menyediakan bus gratis dan layanan BBM keliling. Bahkan, sekolah hanya masuk 3 hari dalam seminggu untuk menghemat energi.
3. Kamboja: Krisis LPG, Warga Diminta Hemat
Menurut laporan Nation Thailand 25/3/2026, Kamboja menghadapi gangguan pasokan LPG setelah perusahaan Sokimex menghentikan sementara penjualan.
Meski pemerintah memastikan stok nasional masih aman, masyarakat diminta beralih ke listrik untuk memasak demi menjaga ketersediaan.
4. Thailand: Tambah Cadangan dan Larang Ekspor
Thailand berhasil meredam krisis dengan mewajibkan cadangan minyak ditingkatkan hingga setara 11 hari konsumsi.
Pemerintah juga mempercepat distribusi, mengawasi ketat stok, dan melarang ekspor minyak untuk menjaga pasokan dalam negeri. Hal ini berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Bangkok Post, 24/3/2026.
5. India: Cegah Panic Buying, Tambah Impor
India sempat dilanda kepanikan warga akibat antrean panjang di SPBU. Namun pemerintah memastikan stok aman.
India meningkatkan impor dari Rusia dan menaikkan produksi LPG hingga 40% berdasarkan laporan The Indian Express, 26/3/2026.
6. Filipina: Status Darurat Energi Nasional
Filipina menetapkan status darurat energi selama satu tahun.
Dilansir dari Al Jazeera, Presiden Ferdinand Marcos Jr. membentuk tim khusus untuk mengatur distribusi BBM, menambah cadangan, hingga memberi subsidi bagi pekerja transportasi.
7. Pakistan: Terapkan Sistem Kuota Digital
Berdasarkan laporan Asia News 26/3/2026, Pakistan menyiapkan sistem distribusi BBM berbasis kuota digital melalui aplikasi yang terhubung dengan identitas kendaraan.
Langkah ini bertujuan menghindari penimbunan dan memastikan distribusi merata.
8. Bangladesh: Antrean Panjang, Pemerintah Bantah Krisis
Bangladesh dilaporkan mengalami antrean panjang di SPBU. Namun pemerintah membantah adanya krisis.
“Saat ini, tidak ada kekurangan energi di negara ini,” kata Menteri Zahir Uddin Swapan seperti dilansir dari The Economic Times.
Baca Juga : Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni Ingatkan Kebijakan WFH Jangan Cuma Simbolis
9. Jepang: Lepas Cadangan Terbesar
Jepang mengambil langkah besar dengan melepas cadangan minyak hingga 80 juta barel.
Dilansir dari The Guardian, Perdana Menteri Sanae Takaichi juga memberikan subsidi untuk menahan harga BBM.
10. Korea Selatan: Siapkan Dana Rp1.000 Triliun
Seperti dilaporkan The Straits Times, Korea Selatan menerapkan berbagai kebijakan, termasuk batas harga BBM dan program stabilisasi pasar senilai 100 triliun won.
Pemerintah juga menggelar rapat darurat rutin untuk memantau kondisi energi.
11. Sri Lanka: Stok Menipis, Harga Naik 30%
Menurut laporan Tamil Guardian, Sri Lanka menghadapi krisis serius dengan stok BBM hanya cukup untuk 25 hari.
Pemerintah menaikkan harga hingga 30% dan menerapkan sistem distribusi berbasis QR code untuk mencegah panic buying.
Lalu Bagaimana dengan Indonesia?
Di tengah krisis yang melanda banyak negara Asia, Indonesia memang belum mengalami kelangkaan BBM. Namun, bukan berarti aman sepenuhnya.
Indonesia masih bergantung pada impor minyak, sehingga sangat rentan terhadap gejolak harga global. Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama, dampaknya bisa mulai terasa di dalam negeri.
Beberapa potensi dampak yang bisa terjadi di Indonesia antara lain:
• Kenaikan harga BBM non-subsidi
• Bertambahnya beban subsidi energi pemerintah
• Kenaikan biaya transportasi dan logistik
• Efek domino ke harga kebutuhan pokok (inflasi)
Meski begitu, pemerintah biasanya mengantisipasi dengan menjaga cadangan energi dan melakukan penyesuaian kebijakan melalui Pertamina.
Krisis BBM di Asia akibat konflik Iran vs AS-Israel sudah menjadi kenyataan di sejumlah negara. Indonesia memang belum mengalami dampak langsung, namun tetap berada dalam posisi rawan terdampak jika konflik berkepanjangan.
Kewaspadaan dan langkah antisipasi menjadi kunci agar dampak krisis energi global tidak berkembang menjadi krisis dalam negeri.
