JATIMTIMES - Aroma tradisi mulai terasa di sudut-sudut Pasar Kebalen. Di antara hiruk pikuk pembeli, anyaman harapan tergambar dari janur-janur muda yang dijajakan Samsul. Menjelang Hari Raya Ketupat, lapak sederhana miliknya mendadak ramai diserbu warga yang bersiap menyambut hari penuh makna.
Dengan senyum sederhana, Samsul melayani satu per satu pembeli yang datang silih berganti. Ia merasakan betul bagaimana tradisi yang terus hidup ini membawa berkah tersendiri bagi dirinya.
Baca Juga : Gus Fawait: Beasiswa 2026 Pemkab Jember segera Cair
Samsul mengaku janur membawa rejeki bagi keluarganya. Ia mengaku pembeli kerap datang untuk melanjutkan tradisi dari leluhur. “Banyak yang beli janur. Syukur bisa laku,” ujarnya lirih, menggambarkan ramainya permintaan.
Dalam sehari, janur yang ia siapkan tak pernah benar-benar lama tersisa. Ratusan ikat berpindah tangan, menjadi bagian dari persiapan masyarakat menyambut Lebaran Ketupat. “Kurang lebih 600 ikat bawanya,” katanya.
Harga yang ditawarkan pun tetap terjangkau, seolah mengikuti denyut kehidupan masyarakat yang sederhana. “Ada yang 20 25 ribu rupiah per ikat,” ucapnya.
Namun di balik ramainya pembeli, penghasilan yang didapat Samsul tetap bersahaja. Tak berlebihan, tapi cukup untuk menyambung hidup. “Sehari biasanya dapat 100 ribu rupiah,” tuturnya.
Keramaian ini, menurutnya, hanya singgah sementara. Seperti tradisi yang datang dan pergi, pembeli akan ramai hanya dalam hitungan hari. “Mulai kemarin rame pembeli, sampai minggu kemungkinan,” ungkapnya.
Baca Juga : Lebaran Ketupat Perlu Takbiran Seperti Idulfitri? Ini Penjelasan Lengkapnya
Sementara itu penjual lain, Marsiah mengaku berjualan bersama teman-temannya di Pasar Kebalen. Di situ, ia menjual janur yang sudah berbentuk ketupat ataupun yang masih berbentuk janur.
“Setiap hari bisa laku sampai 200 ikat kecil dengan harga 20 ribu rupiah. Kalau yang harga 300 ribu rupiah bisa laku 17 ikat per hari. Kalau ketupat jadi, satu ikat harga 10 ribu rupiah isi 10 biji, tapi laku nya tidak tentu,” kata Marsiah.
