JATIMTIMES - Kota Batu kembali dipadati wisatawan selama libur Lebaran tahun ini. Namun di balik ramainya kunjungan ke berbagai destinasi wisata, sektor perhotelan justru belum merasakan dampak signifikan. Tingkat hunian kamar tercatat cenderung stagnan, menandakan adanya perubahan pola belanja wisatawan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, menyebut rata-rata okupansi hotel selama periode liburan hanya berada di kisaran 70 persen. Angka tersebut tidak jauh berbeda dibandingkan capaian Lebaran tahun sebelumnya.
Baca Juga : RINGKASAN LAPORAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAH DAERAH (RLPPD) KOTA MALANG TAHUN 2025
“Secara angka hampir sama dengan tahun lalu, belum ada peningkatan yang signifikan,” ujar Sujud.
Fenomena ini dinilai tidak terlepas dari tekanan ekonomi yang tengah dirasakan masyarakat. Ia menjelaskan, gejolak geopolitik global telah berdampak pada kondisi ekonomi nasional, yang kemudian berimbas langsung pada daya beli masyarakat.
“Situasi perekonomian dunia sedang melemah karena faktor geopolitik, dan itu berdampak ke dalam negeri. Daya beli masyarakat jadi ikut turun,” jelasnya.
Menurut Sujud, kondisi tersebut membuat wisatawan kini lebih berhitung dalam mengatur pengeluaran. Banyak yang tetap memilih berlibur, tetapi mengurangi anggaran untuk akomodasi dan lebih fokus pada destinasi wisata yang terjangkau.
“Wisatawan sekarang cenderung memilih konsep low budget. Mereka tetap datang ke tempat wisata, tapi tidak semua memutuskan untuk menginap di hotel,” tambahnya.
Baca Juga : 91 Ribu Wisatawan Serbu Kota Batu Saat Lebaran 2026, Puncak Kunjungan Jelang Nyepi
Selain itu, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah juga ikut memberi efek domino terhadap perputaran ekonomi. Pengurangan belanja dari sektor pemerintah disebut berdampak langsung pada menurunnya aktivitas konsumsi masyarakat.
“Ketika belanja pemerintah ditekan, dampaknya terasa ke masyarakat. Perputaran uang berkurang dan akhirnya sektor konsumsi, termasuk pariwisata, ikut terdampak,” ungkapnya.
Meski demikian, meningkatnya kunjungan ke objek wisata alam dan buatan di Kota Batu tetap menjadi sinyal positif. Aktivitas tersebut diharapkan mampu menjaga roda ekonomi lokal, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan sektor ekonomi kreatif, agar tetap bergerak di tengah tantangan yang ada.
