Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Alumni FMIPA UB Tunjukkan Peta Karier Baru Saat Dunia Kerja Tak Lagi Linear

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

19 - Apr - 2026, 18:29

Placeholder
Sulthoni Kharis, Alumni FMIPA UB yang kini menjabat Senior SOC di PT Petro Oxo Nusantara sekaligus Sekretaris Umum Ikatan Alumni MIPA UB (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Angka pengangguran lulusan perguruan tinggi masih menjadi ironi di tengah ekspansi industri. Data yang dipaparkan alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (FMIPA UB) menunjukkan ketimpangan yang tidak kecil: sekitar 1.010.652 lulusan sarjana (D4/S1/S2/S3) tercatat menganggur pada 2025, sementara industri yang akan mulai beroperasi pada 2026 hanya diproyeksikan menyerap sekitar 218.000 tenaga kerja dari 1.236 perusahaan.

Selisih itu bukan sekadar angka, tetapi sinyal bahwa jalur karier konvensional tak lagi cukup menampung lulusan baru. Di titik ini, data sebaran alumni justru membuka pola yang berbeda.

Baca Juga : Antisipasi Musim Kemarau, Pemkot Malang Fokus Mitigasi Longsor dan Kebakaran

Sulthoni Kharis, Alumni FMIPA UB yang kini menjabat Senior SOC di PT Petro Oxo Nusantara sekaligus Sekretaris Umum Ikatan Alumni MIPA UB, menyebut hasil kuesioner terhadap sekitar 1.300 alumni menunjukkan dominasi sektor non-pemerintah, namun dengan diversifikasi yang luas.

“Dari data kami, karyawan swasta itu 33 persen, lalu pegawai negeri, TNI, dan Polri sekitar 30,9 persen. Yang menarik, usaha sendiri sudah 12,2 persen. Ini menunjukkan mulai ada pergeseran,” ujarnya dalam sebuah pertemuan Sabtu, (18/4/2026).

Dalam konteks ini, karyawan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) maupun milik daerah tercatat sebesar 6,4 persen, sementara profesi politikus hanya 0,2 persen. Aktivis LSM atau Lembaga Swadaya Masyarakat dan NGO atau Non-Governmental Organization berada di angka 0,7 persen, sedangkan kategori lain-lain mencapai 15,4 persen.

Data tersebut mengindikasikan bahwa mayoritas lulusan masih terserap di sektor formal, tetapi ruang alternatif mulai terbentuk. Sulthoni menilai, kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari mismatch antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri yang terus berubah.

“Kalau melihat kebutuhan industri ke depan, arahnya sudah jelas bergeser. Bukan hanya industri besar, tapi juga ke sektor yang lebih adaptif seperti digital dan agro,” katanya.

Ia merujuk pada tren perkembangan industri yang kini bergerak di enam sektor utama. Pertama, ekonomi hijau, yakni model pembangunan yang menekankan keberlanjutan lingkungan. Kedua, e-commerce atau perdagangan digital yang mendorong pertumbuhan UMKM atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Ketiga, penguatan infrastruktur digital yang memperluas akses teknologi.

Selain itu, sektor agroindustri dan ketahanan pangan juga mulai menjadi tumpuan, terutama dalam pengolahan hasil pertanian. Kebijakan hilirisasi, yaitu proses peningkatan nilai tambah dari bahan mentah, turut mendorong industrialisasi. Sementara sektor jasa, khususnya logistik dan asuransi, mengalami peningkatan permintaan.

Di tengah perubahan tersebut, Sulthoni melihat ada persoalan mendasar pada cara lulusan memandang karier. Ia menilai banyak yang masih terpaku pada jalur aman, sementara peluang baru justru muncul di luar itu.

Baca Juga : Kolaborasi Slank, ShagyyDog dan HS, Tur Berani Kita Beda Guncang Kota Malang

“Selama ini orientasinya jadi karyawan. Padahal dengan kondisi seperti ini, tidak semua bisa terserap. Harus mulai berpikir menciptakan peluang,” ujarnya.

Pandangan itu ia praktikkan sendiri melalui usaha peternakan berbasis pendekatan ilmiah. Dengan memanfaatkan prinsip analisis dan eksperimen, ia mengembangkan persilangan unggas dan inovasi pakan murah berbasis limbah yang difermentasi.

“Ilmu MIPA itu bukan hanya untuk industri. Cara berpikirnya bisa dipakai untuk apa saja, termasuk usaha,” katanya.

Ia bahkan menyebut skala kecil pun sudah bisa berdampak ekonomi. Dengan ratusan ekor ternak, menurutnya, seseorang bisa membiayai kebutuhan pendidikan keluarga. Model ini, kata dia, dapat direplikasi sebagai solusi alternatif di tengah terbatasnya lapangan kerja formal.

Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya keberanian dalam mengambil keputusan. Lulusan sains, menurutnya, sering kali terlalu terjebak pada analisis detail hingga ragu melangkah. “Kita ini kuat di analisis, tapi kadang lemah di keputusan. Padahal di kondisi seperti sekarang, keberanian itu penting,” ujarnya.

Data yang muncul dari dua sisi, yakni ketimpangan tenaga kerja dan sebaran profesi alumni, mengarah pada satu kesimpulan: masa depan karier tidak lagi linear. Perguruan tinggi, kata Sulthoni, perlu mulai menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi realitas tersebut. “Kalau tidak diubah dari sekarang, gap ini akan terus ada. Lulusan banyak, tapi yang terserap terbatas,” katanya.


Topik

Pendidikan pengangguran fmipa ub pengangguran indonesia



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pamekasan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan