JATIMTIMES – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) dari Fraksi PKS, Puguh Wiji Pamungkas mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1448 H, sebagai momentum refleksi diri.
Mengusung tagline "PKS Love Maulid", ia menekankan pentingnya meneladani kepemimpinan serta akhlak Rasulullah SAW untuk menjawab berbagai tantangan zaman, terutama krisis figur teladan di tengah masyarakat.
Baca Juga : Pemutihan Pajak Motor Berakhir 31 Agustus, Lilik DPRD Jatim: Masih Ada Waktu, Segera Manfaatkan
Menurut Puguh, situasi bangsa saat ini tengah dihadapkan pada problematika multidimensi yang kompleks, mulai dari isu pemerintahan, kebijakan publik, politik, keamanan, hingga degradasi sosial di tengah masyarakat.
Puguh menyoroti fenomena maraknya masyarakat yang terjerat pinjaman online (pinjol), kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perundungan (bullying), budaya permisif, hingga penurunan moralitas anak bangsa. Ia menegaskan, muara dari berbagai persoalan tersebut adalah absennya contoh yang baik.
"Tentu ini harus menjadi refleksi bahwa keteladanan itu sangat penting sekali. Hari ini bangsa dan masyarakat kita butuh keteladanan. Dari siapa? Dari para pemimpinnya, dari para pemangku kebijakannya, dan kalau di rumah berarti dari para orang tua," tegas Puguh, Selasa (25/8/2026).
Legislator asal Dapil Malang Raya ini memaparkan bahwa Jatim memiliki posisi strategis sebagai representasi wilayah religius. Keberadaan sekitar 7.000 pondok pesantren di Jatim menjadi bukti kuat kultur keagamaan yang mengakar.
"Ini menjadi simbol bahwa Jawa Timur adalah provinsi religius. Seyogianya, momentum Maulid ini menjadi bagian dari refleksi kita bersama untuk meneladani apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad," ungkapnya.
Di sisi lain, Puguh mengaitkan ajaran Rasulullah SAW dengan arah kebijakan pemerintah saat ini yang tengah memprioritaskan efisiensi anggaran negara dan penghematan. Ia menjelaskan bahwa sejarah mencatat pola hidup Rasulullah sangat mengedepankan efisiensi namun menghasilkan dampak besar (low cost high impact).
"Kalau kita kenal istilah low cost high impact, dengan sesuatu yang sedikit tetapi menghasilkan dampak yang luar biasa, itu adalah salah satu keteladanan Nabi Muhammad. Artinya, menghindari sifat boros itu juga bagian dari yang dicontohkan oleh beliau," paparnya.
Menanggapi maraknya konflik sosial dan kekerasan di tingkat lokal maupun global, Puguh mengingatkan bahwa tindakan kekerasan bertolak belakang dengan syiar yang dibawakan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah lebih mengutamakan pendekatan kebijaksanaan (dakwah bil-hikmah) dibandingkan perselisihan.
"Ini yang hari ini perlu terus kita kuatkan, supaya kita lebih mengedepankan upaya menjaga persatuan daripada memperuncing perpecahan dan perbedaan," pungkas sekretaris Fraksi PKS DPRD Jatim ini.
