DPRD Jatim Soroti Impor Indukan Ayam AS: Jangan Rugikan Peternak Lokal

26 - Feb - 2026, 07:34

Anggota Komisi B DPRD Jatim Khusnul Khuluk.

JATIMTIMES - Rencana impor 580 ribu indukan ayam (parent stock) dari Amerika Serikat (AS) mendapat sorotan serius dari DPRD Jawa Timur (Jatim). Anggota Komisi B DPRD Jatim Khusnul Khuluk, mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak berujung merugikan peternak lokal.

Ia juga mendorong agar kebijakan itu tidak menciptakan ketergantungan jangka panjang terhadap pasokan luar negeri. Menurut politisi Fraksi PKS itu, impor masih dapat dimaklumi sepanjang benar-benar difokuskan untuk kebutuhan breeding atau pembibitan guna meningkatkan populasi ayam petelur dan pedaging nasional.

Baca Juga : Fraksi Golkar DPRD Jatim Minta Kaji Matang Risiko Fiskal Tambahan Modal Jamkrida 

“Kalau yang diimpor itu indukan untuk breeding yang akan menetaskan bibit ayam petelur dan pedaging, saya rasa tidak apa-apa. Untuk menambah populasi memang perlu bibit unggul supaya produktivitasnya tinggi,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).

Namun, ia menekankan bahwa kualitas parent stock menjadi kunci utama dalam meningkatkan produksi. Tanpa standar mutu yang ketat, tujuan peningkatan populasi justru bisa berdampak negatif di tingkat peternak.

“Jangan sampai indukan yang masuk tidak berkualitas. Kalau ingin produksi meningkat, harus dari bibit yang benar-benar unggul,” tegasnya.

Khusnul juga menyatakan kurang sepakat apabila kebijakan impor diperluas dalam bentuk daging ayam atau telur konsumsi. Menurutnya, Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi besar untuk mencukupi kebutuhan tersebut secara mandiri.

“Kalau berupa daging atau telurnya yang diimpor, tentu kami kurang setuju. Kita ini negara agraris, potensinya besar. Ke depan harus diberi ruang agar bisa mandiri,” katanya.

Ia mendorong pemerintah tidak hanya mengandalkan suplai luar negeri, tetapi juga memperkuat riset dan inovasi dalam negeri untuk menghasilkan indukan unggul secara mandiri. Khusnul mencontohkan keberhasilan sejumlah ayam kampung hasil persilangan yang dikembangkan oleh masyarakat dan peneliti lokal.

Baca Juga : Surplus Bawang dan Cabai Merah, Gubernur Jatim Apresiasi Kota Batu

“Ayam kampung hasil persilangan itu sudah banyak yang bagus. Ada yang bisa bertelur hingga sekitar 300 butir per tahun, dan dagingnya juga disukai masyarakat. Itu murni hasil inovasi warga kita,” jelasnya.

Karena itu, ia berharap kebijakan impor benar-benar menjadi solusi jangka pendek untuk memperkuat breeding, bukan strategi permanen yang melemahkan kemandirian sektor peternakan nasional.

“Silakan impor kalau memang untuk memperkuat breeding dan menambah populasi. Tapi riset lokal harus diperkuat, supaya kita bisa menghasilkan indukan unggul sendiri,” pungkasnya.