JATIMTIMES - Al-Arqam bin Abi Al-Arqam dan rumahnya menjadi saksi dalam perkembangan dan dakwah Islam di Mekkah. Sebab, saat itu hanya segelintir orang yang mau menerima dakwah Rasulullah SAW.
Seperti halnya dijelaskan dalam buku Seri Ensiklopedia Anak Muslim 125 Sahabat Nabi Muhammad SAW karya Mahmudah Mastur bahwa Al-Arqam bin Abi Al-Arqam menjadi salah satu sahabat Assabiqunal Awwalun atau yang masuk Islam pertama.
Dalam dakwah Islam, rumah dari Al-Arqam yang berada di Bukit Shafa, difungsikan oleh Rasulullah sebagai tempat berdakwah secara diam-diam. Berbagai hal tentang Islam diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW memilih rumah Al-Arqam sebagai tempat berdakwah bukan tanpa alasan. Lokasi rumah Al-Arqam yang terpencil, cukup membuat aman dakwah Rasulullah dari gangguan kaum Kafir Quraisy. Maka lokasi rumah Al-Arqam inilah kemudian menjadi madrasah pertama umat Islam.
Selain itu, alasan lainnya Rasulullah memilih rumah Al-Arqam sebagai tempat berdakwah karena berkaitan dengan suku Makhzum. Al-Arqam merupakan orang yang berasal dari suku tersebut.
Suku ini sendiri, juga dikenal sebagai suku yang merupakan musuh keluarga besar Rasulullah SAW. Maka dari itu, hal ini akan membuat kaum kafir Quraisy tidak akan berpikir Rasulullah SAW di rumah Al-Arqam ataupun terfikir untuk mengganggu bahkan mendatangi rumah Al-Arqam.
Dari sumber lain, yakni buku Negara Islam Modern: Menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, dijelaskan bahwa dipilihnya rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam sebagai madrasah pertama umat Islam karena memang saat itu belum dikenal dengan keislamannya. Sehingga, hal ini tidak menimbulkan pemikiran pada seseorang, khususnya kaum Quraisy bahwa Rasulullah SAW berdakwah di tempatnya.
Kemudian alasan kedua memilih kediaman Al-Arqam sebagai madrasah, karena Suku Bani Makhzum menjadi suku asal dari Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Suku ini berkonflik dengan Bani Hasyim.
Baca Juga : Ketika Kerudung Cucu Abu Bakar Disobek Sang Bibi Aisyah
Jika status keislaman Al-Arqam diketahui, maka kemungkinan besar tidak akan dipikirkan bahwa pertemuan akan berlangsung di rumahnya. Sebab, hal ini berkaca pada konflik Bani Makhzum dan Bani Hasyim.
Selanjutnya alasan ketiga, Al-Arqam bin Al-Arqam saat masuk Islam masih berusia 16 tahun. Hal ini menguntungkan dalam dakwah Rasulullah SAW. Sebab, kaum Quraisy selama ini cenderung melakukan penyelidikan tentang dakwah Rasulullah kepada para sahabat-sahabat yang terkemuka. Sebaliknya, mereka tidak akan pernah melakukan penyelidikan kepada para sahabat nabi yang muda.
Alasan berikutnya menjadikan rumah Al-Arqam sebagai tempat madrasah adalah, karena terhindar dari sorotan kaum kafir Quraisy. Mereka mengira bahwa pertemuan lebih banyak diadakan di rumah kaum Bani Hasyim, salah satunya Abu Bakar. Maka, dengan menggunakan rumah Al-Arqam sebagai madrasah, dalam dakwah Rasulullah SAW jauh lebih aman.
