JATIMTIMES - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan, menjadi sorotan setelah video temuan telur rebus yang diduga masih berlumur kotoran ayam viral di media sosial. Insiden tersebut memicu pertanyaan publik soal kualitas kontrol distribusi makanan bagi pelajar.
Anggota DPRD Jawa Timur (Jatim) Agus Cahyono langsung merespons dengan menekankan bahwa persoalan ini bukan pada konsep program, melainkan pada lemahnya pengawasan teknis di lapangan.
Baca Juga : Indeks Kualitas Udara Kota Batu Kian Merosot
“Tujuan MBG ini bagus, semuanya sudah tercukupi. Sudah ada SOP termasuk anggaran, sehingga program ini sangat baik bagi masyarakat,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Legislator yang akrab disapa Agus Cah itu menilai, jika standar operasional prosedur dan dukungan anggaran sudah tersedia, maka kejadian seperti di Lembeyan seharusnya bisa dicegah. Ia menegaskan bahwa titik krusial ada pada kontrol sebelum makanan keluar dari dapur penyedia.
“Yang pertama, sebelum dikirim tentunya tim kontrol perlu memperketat pemeriksaan oleh tim MBG saat masih di dapur sebelum pendistribusian. Jika muncul peristiwa tersebut maka itu lemah pengawasannya,” tegas legislator asal Trenggalek tersebut.
Video yang diunggah akun Facebook Tri Winarsih memperlihatkan telur rebus yang diduga belum dibersihkan secara maksimal sebelum dimasak. Unggahan itu dengan cepat menyebar dan menuai beragam respons warganet, sekaligus memicu kekhawatiran orang tua siswa.
Menurut Agus, insiden ini harus menjadi alarm evaluasi menyeluruh, termasuk menilai kesiapan dapur penyedia makanan. “Misalnya kapasitas dapur kurang memadai, tentunya bisa ditambah sehingga bisa mengantisipasi adanya masalah dalam penyaluran MBG ke sekolah-sekolah,” tandasnya.
Baca Juga : Flexing Pegawai SPPG MBG di Jember Pamer Gaji Pertama untuk Shopping Bareng Selingkuhan, Tuai Kecaman
Ia mengingatkan, program yang menyasar kebutuhan gizi pelajar tidak boleh tersandung persoalan teknis yang sebenarnya dapat dicegah. Bagi Agus, kualitas dan higienitas makanan adalah fondasi utama keberhasilan MBG.
“Programnya sudah baik, tinggal penguatan pengawasan dan evaluasi teknis di lapangan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkas Wakil Ketua Komisi A DPRD Jatim itu.
Agus menekankan, pembenahan pengawasan harus segera dilakukan agar kepercayaan publik terhadap program MBG tetap terjaga dan tujuan peningkatan gizi pelajar tidak tercoreng oleh kelalaian teknis di lapangan.
