JATIMTIMES - Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi pangan ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) merupakan bagian dari upaya konkret pencegahan stunting di Kota Malang.
Program ini menjadi bentuk kolaborasi lintas sektor atau cross cutting dengan Dinas Kesehatan sebagai leading sector, sementara Dispangtan menjalankan tugas pokok di bidang pangan dari hulu hingga hilir.
Baca Juga : Kendaraan Listrik di Jawa Timur Tak Lagi Bebas Pajak, Mulai Kapan Wajib Bayar PKB?
Ia menjelaskan bahwa peran Dispangtan tidak hanya pada aspek produksi pangan, tetapi juga memastikan keamanan pangan, baik yang berasal dari pertanian, perikanan, maupun peternakan.
"Kami memastikan pangan asal tumbuhan dan hewan bebas dari bahan berbahaya seperti residu pestisida, boraks, formalin, dan zat kimia lainnya,” ujarnya di sosialisasi Pangan ASUH di Kelurahan Balearjosari, Rabu (22/4/2026).
Menurut Slamet, salah satu kunci utama dalam pencegahan stunting adalah memastikan konsumsi pangan yang memenuhi prinsip ASUH. Pangan yang aman berarti bebas dari bahaya biologis, kimia, dan fisik, sementara pangan sehat harus mengandung gizi seimbang.
Pangan juga harus utuh tanpa pemalsuan, serta halal sesuai ketentuan yang berlaku. Ia menegaskan bahwa protein hewani seperti daging sapi, ayam, telur, dan susu memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan anak. Asupan tersebut berkontribusi pada peningkatan tinggi badan serta perkembangan otak anak secara optimal.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa pangan yang tidak aman dapat memicu penyakit seperti diare yang berdampak pada terganggunya penyerapan gizi. Oleh karena itu, penerapan prinsip ASUH dinilai menjadi langkah penting dalam menekan risiko stunting.
Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat juga diberikan edukasi terkait pemilihan bahan pangan asal hewan yang layak konsumsi. Daging segar ditandai dengan warna merah cerah dan tidak berbau, sementara telur harus utuh dan tidak retak, serta susu harus dalam kondisi segar.
Tidak hanya itu, pengolahan pangan di tingkat rumah tangga juga menjadi perhatian. Masyarakat diimbau untuk mencuci tangan sebelum memasak, memisahkan bahan mentah dan matang, serta memasak makanan hingga matang sempurna. Penyimpanan makanan pun harus memperhatikan suhu yang aman dan menghindari pemanasan berulang.
Sementara itu, Medic Veterinary Ahli Muda bidang peternakan dan kesehatan hewan Dispangtan Kota Malang, Endah Setiowati, menambahkan bahwa kegiatan sosialisasi ini menyasar ratusan balita melalui keterlibatan orang tua dan kader.
“Total ada sekitar 250 balita yang tercakup. Kegiatan dimulai sejak kemarin di Kelurahan Arjowinangun dengan 80 peserta, dan hari ini di Kelurahan Arjosari diikuti sekitar 70 peserta,” jelasnya.
Endah menyebutkan bahwa materi yang disampaikan mencakup pencegahan stunting dan tumbuh kembang anak. Selain itu, turut disampaikan mengenai edukasi terkait penyusunan menu sederhana yang mudah diterapkan oleh para ibu di rumah.
Baca Juga : Diingatkan Soal Cuaca Ekstrem, Kloter Pertama Jemaah Haji Embarkasi Surabaya Resmi Diberangkatkan
“Dokter anak menjelaskan bagaimana membuat menu yang mudah, supaya ibu bisa memasak sendiri untuk anaknya. Ini penting, terutama untuk anak yang mengalami GTM (gerakan tutup mulut) atau susah makan,” ujarnya.
Pada akhir kegiatan, peserta juga diberikan tantangan untuk mengolah bahan pangan yang telah dibagikan, seperti daging ayam, daging sapi, ceker, telur, dan susu. Bahan tersebut diharapkan dapat diolah menjadi menu kreatif sesuai resep yang diberikan.
“Biasanya ada challenge, peserta diminta membuat menu dari bahan yang diberikan. Nanti ada hadiah pulsa Rp50 ribu dari narasumber sebagai bentuk motivasi,” tambahnya.
Menurut Endah, pendekatan edukasi yang disertai praktik langsung ini dinilai lebih efektif karena peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung mencoba. Dengan demikian, pengetahuan yang diberikan dapat lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menekankan pentingnya variasi menu bagi anak agar tidak bosan. Misalnya, telur tidak hanya diolah menjadi ceplok atau dadar, tetapi bisa dikreasikan menjadi puding bersama susu atau olahan lainnya.
Terkait target penurunan stunting, Endah mengakui bahwa belum ada angka pasti yang dapat diproyeksikan. Namun, pihaknya terus berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan dalam memantau perkembangan kasus di lapangan.
“Kami tidak menghitung secara spesifik berapa persen penurunannya, karena itu perlu kajian. Tapi yang jelas kami terus berupaya dan berkolaborasi. Kadang ada yang sudah bebas stunting, tapi ada juga yang kembali masuk,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa yang terpenting adalah konsistensi dalam melakukan edukasi dan intervensi kepada masyarakat, baik kepada orang tua balita maupun kader di lapangan. Dengan langkah tersebut, diharapkan angka stunting di Kota Malang dapat terus ditekan.
