JATIMTIMES - Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, keberadaan lembaga pendidikan berbasis keagamaan tetap memiliki peran vital dalam membentuk karakter generasi muda. Salah satunya adalah Madrasah Mathla’ul Ihsan yang berlokasi di Dusun Duwet Selatan, Desa Duwet, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo.
Madrasah ini menjadi saksi perjalanan panjang penuh dinamika, mulai dari masa kejayaan, keterpurukan, hingga kini perlahan bangkit kembali.
Baca Juga : Parkir Liar dan Penyeberang Jalan Semrawut di Jalur Sepeda Jadi Sorotan Dishub Kota Malang
Perlu diketahui, Madrasah Mathla’ul Ihsan didirikan sebelum tahun 2000 oleh seorang ulama kharismatik, Kiai Asy’ari Ihsan. Dengan latar belakang keilmuan atau Sanad keilmuan dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, beliau mendirikan madrasah sebagai wadah pendidikan Islam bagi masyarakat sekitar, sekaligus sebagai sarana dakwah yang berkelanjutan.
Pada masa awal berdirinya, madrasah ini berkembang pesat dan menjadi pusat pembelajaran agama Islam di Desa Duwet dan sekitarnya. Antusiasme masyarakat begitu tinggi. Tidak hanya santri dari desa setempat, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Bondowoso hingga Pulau Sepudi, Madura, datang untuk menimba ilmu di madrasah tersebut.
Keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam perkembangan madrasah. Warga bergotong royong membangun fasilitas, membantu kebutuhan operasional, hingga mendorong anak-anak mereka untuk belajar di sana. Madrasah ini pun tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
Kegiatan pembelajaran di Madrasah Mathla’ul Ihsan terbilang lengkap. Para santri mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman seperti tauhid, fiqih, tajwid, bahasa Arab, Al-Qur’an Hadis, hingga kajian kitab kuning. Pendekatan ini menjadikan santri tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, perjalanan madrasah tidak selalu mulus. Tahun 2020 menjadi titik awal kemunduran setelah wafatnya sang pendiri, Kyai Asy’ari Ihsan. Dalam kurun waktu sekitar lima tahun, aktivitas pembelajaran menurun drastis. Tanpa kepemimpinan yang kuat, madrasah sempat hampir tidak beroperasi.
Salah satu alumni Madrasah Mathla’ul Ihsan, Abdul Azis, mengungkapkan bahwa pasca wafatnya pendiri, madrasah sempat tidak terurus selama beberapa tahun. "Setelah Bapak Kiai wafat, madrasah ini sempat tidak terurus sekitar lima tahunan. Waktu itu putrinya juga masih mondok, jadi belum bisa langsung melanjutkan," ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Ia juga mengenang masa kejayaan madrasah yang pernah menjadi tujuan banyak santri dari luar daerah. "Awalnya ini banyak sekali santri dari luar. Bahkan ada yang khusus datang untuk belajar kitab kuning beberapa minggu di sini karena dikenal keilmuannya," imbuh Azis yang saat ini menjabat sebagai Dirut PT Bandar Indonesia Grup (BIG) itu.
Harapan mulai muncul kembali pada pertengahan 2025, ketika putri almarhum, Nyai Arifatus Shalihah, berinisiatif menghidupkan kembali madrasah. Dengan dukungan masyarakat dan alumni, ia mulai membenahi struktur kepengurusan serta memperbaiki sarana prasarana yang sempat terbengkalai.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Duwet. Kepala Desa Adi Chandra Karisma memberikan bantuan berupa tiga unit kipas angin serta dana sebesar Rp1 juta. Ia juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung keberlangsungan madrasah sebagai bagian dari pembinaan generasi muda di desa.
"Meskipun saat ini masyarakat lebih memilih untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah formal dari pada sekolah berbasis keagamaan, kami tetap berkomitmen untuk terus bangkit untuk mencetak siswa siswi yang tidak hanya pandai mata pelajaran formal tapi juga pendidikan karakter, Akhlak dan agamanya," tegasnya.
Baca Juga : Gaji Hakim Tembus Rp 105 Juta, Tertarik Kuliah Hukum? Ini Rekomendasi Kampus Terbaik di Indonesia
Saat ini, kegiatan belajar mengajar mulai kembali berjalan normal. Jumlah santri yang aktif mencapai sekitar 50 orang, mayoritas berasal dari Desa Duwet dan sekitarnya. Untuk menyesuaikan dengan aktivitas sekolah formal, jadwal pembelajaran dilaksanakan pada sore hari, mulai pukul 15.30 hingga 17.00 WIB.
Menurut Abdul Azis, pengaturan jadwal menjadi hal penting agar madrasah tetap diminati tanpa mengganggu pendidikan formal. "Perlu ada pola yang pas, mungkin ke depan dinas terkait bisa turun membantu merumuskan jadwal yang ideal agar madrasah tetap eksis," ujarnya.
Dalam aspek pembangunan, progres renovasi terus berjalan. Tiga ruang kelas telah selesai diperbaiki dan digunakan, sementara tiga lainnya masih dalam tahap penggalangan dana. Semangat gotong royong masyarakat kembali menjadi kunci dalam proses kebangkitan ini.
Selain itu, pihak madrasah juga tengah mengurus kembali legalitas sebagai Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT). Abdul Azis menceritakan jika legalitas sebenarnya sudah ada, namun setelah dicek nomor registrasinya sudah dibekukan dan dipakai oleh lembaga lain, sehingga harus mengajukan kembali.
Ia juga berharap proses perizinan dapat berjalan lancar. "Berkas-berkas sudah diserahkan. Harapannya dipermudah karena manfaatnya jelas untuk masyarakat," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya perhatian serta hadirnya pemerintah daerah demi terhadap keberlangsungan madrasah. Menurutnya, lembaga pendidikan keagamaan seperti ini perlu mendapatkan dukungan kebijakan agar tidak kalah dengan pendidikan formal.
Dengan semangat kebersamaan, dukungan masyarakat, serta tekad kuat dari pengelola, Madrasah Mathla’ul Ihsan kini perlahan bangkit dari keterpurukan. Diharapkan, madrasah ini kembali menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan generasi berilmu dan berakhlak karimah di tengah tantangan zaman.
