Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

BMKG Analisis Dasarian I Juli 2026: El Nino Masih Aktif, Jawa Timur Waspada Kekeringan

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

13 - Jul - 2026, 18:43

Placeholder
Anomali suhu muka laut Dasarian I Juli 2026. (Foto: laman resmi BMKG)

JATIMTIMES - Istilah dasarian belakangan menjadi trending dalam penelusuran Google setelah sering muncul dalam berbagai informasi prakiraan cuaca yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dalam laporan terbaru Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I Juli 2026, BMKG mengungkap sejumlah perkembangan, mulai dari El Nino yang masih aktif hingga potensi kekeringan meteorologis di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.

Berdasarkan analisis BMKG, hasil pemantauan pada Dasarian I Juli 2026 menunjukkan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada di angka -0,224 dengan indeks bulanan -0,387. Sementara itu, Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) di wilayah Nino 3.4 tercatat +1,88 secara dasarian dan +1,56 secara bulanan.

Baca Juga : SMAN 2 Kota Malang Dukung Gernas RANA, Perkuat Komitmen Ciptakan Sekolah Aman dan Nyaman

BMKG menyebut kondisi tersebut mengindikasikan fenomena El Nino masih aktif.

Apa Itu Dasarian?

Dalam istilah klimatologi, dasarian merupakan periode pengamatan selama 10 hari. Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian, yakni:
• Dasarian I: tanggal 1-10
• Dasarian II: tanggal 11-20
• Dasarian III: tanggal 21 hingga akhir bulan

Pembagian ini digunakan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca, curah hujan, hingga dinamika atmosfer secara lebih rinci dibandingkan analisis bulanan.

Jawa Timur Masuk Daftar Waspada Kekeringan

Selain memantau El Nino, BMKG juga merilis peringatan dini kekeringan meteorologis yang berlaku untuk Dasarian II Juli 2026.

Pada kategori Waspada, wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan meliputi sejumlah kabupaten/kota di:
• Bali
• DI Yogyakarta
• Gorontalo
• Jawa Barat
• Jawa Tengah
• Jawa Timur
• Kalimantan Selatan
• Kepulauan Bangka Belitung
• Maluku
• Nusa Tenggara Barat
• Nusa Tenggara Timur
• Papua Selatan
• Sulawesi Selatan
• Sulawesi Utara

Sementara pada kategori Siaga, BMKG mencantumkan:
• Bali
• Banten
• DI Yogyakarta
• Jawa Barat
• Jawa Tengah
• Jawa Timur
• Maluku
• Nusa Tenggara Barat
• Nusa Tenggara Timur

Adapun kategori Awas tidak berlaku untuk periode tersebut.

Sebaliknya, peringatan dini curah hujan tinggi pada Dasarian II Juli 2026 hanya berlaku pada kategori Waspada di beberapa kabupaten/kota di Papua Tengah. Tidak ada wilayah yang masuk kategori Siaga maupun Awas.

Sebagian Besar Indonesia Sudah Memasuki Musim Kemarau

Dalam analisis perkembangan musim, BMKG mencatat 60,5 persen wilayah Indonesia atau 423 Zona Musim (ZOM) kini telah memasuki musim kemarau.

Wilayah yang mengalami musim kemarau meliputi sebagian besar Pulau Jawa, termasuk hampir seluruh Jawa Timur, kemudian Bali, NTB, NTT, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, serta sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.

Curah Hujan Didominasi Kategori Rendah

BMKG mencatat distribusi curah hujan pada Dasarian I Juli 2026 didominasi kategori rendah.

Rinciannya meliputi:
• Curah hujan sangat tinggi: 0,05 persen
• Tinggi: 1,58 persen
• Menengah: 25,99 persen
• Rendah: 72,38 persen

Sementara berdasarkan sifat hujan:
• Jauh di atas normal: 8,78 persen
• Atas normal: 8,29 persen
• Normal: 12,86 persen
• Bawah normal: 70,08 persen

Baca Juga : Dinas Pendidikan Jatim Komitmen Ciptakan Lingkungan Sekolah Bebas Rokok, Guru Diminta Jadi Teladan

Data tersebut menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan yang lebih rendah dibanding kondisi normal.

Juli hingga Agustus Diprediksi Masih Minim Hujan

BMKG memprakirakan pada periode Juli Dasarian II hingga Agustus Dasarian I 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi curah hujan kategori rendah hingga menengah, yakni antara 0-150 mm per dasarian.

Wilayah yang diprediksi mengalami hujan kategori rendah atau kurang dari 50 mm per dasarian mencakup hampir seluruh Pulau Jawa, termasuk Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.

Kondisi serupa diperkirakan masih berlanjut pada Juli Dasarian III dan Agustus Dasarian I.

Agustus hingga Oktober Berpotensi Sangat Kering

BMKG juga merilis prediksi curah hujan bulanan kurang dari 50 mm per bulan hingga awal 2027.

Pada Agustus 2026, peluang curah hujan sangat rendah diperkirakan terjadi di:
• Pulau Jawa
• Bali
• NTB
• NTT
• Lampung
• Sumatera Selatan bagian selatan
• Sebagian Kalimantan
• Sebagian besar Sulawesi
• Maluku
• Sebagian Papua

Memasuki September 2026, wilayah dengan peluang hujan di bawah 50 mm semakin meluas, termasuk hampir seluruh Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua Selatan.

Sementara pada Oktober 2026, kondisi kering masih berpotensi terjadi di sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Tenggara, sebagian Kalimantan Selatan hingga Papua Selatan.

Sedangkan pada November 2026, potensi hujan sangat rendah mulai berkurang dan hanya diprakirakan terjadi di beberapa wilayah, termasuk sebagian Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, NTB, NTT, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah yang telah memasuki musim kemarau, agar lebih bijak menggunakan air, mewaspadai potensi kekeringan, serta terus memantau informasi cuaca dan iklim terbaru melalui kanal resmi BMKG.


Topik

Peristiwa Dasarian BMKG musim kemarau Jawa Timur waspada kekeringan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pamekasan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy