Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Daftar Wilayah yang Masuk Puncak Musim Kemarau Agustus 2026, BMKG Ingatkan Risiko Kekeringan dan Karhutla

Penulis : Mutmainah J - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

02 - Aug - 2026, 14:37

Placeholder
Ilustrasi kemarau. (Foto: Freepik)

JATIMTIMES - Memasuki Agustus 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai mengalami puncak musim kemarau. Selain cuaca yang semakin panas, sejumlah daerah juga berpotensi menghadapi kekeringan hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hampir setengah wilayah daratan Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus tahun ini. BMKG pun telah memetakan daerah-daerah yang diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026 sebagai acuan bagi masyarakat dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kewaspadaan.

Baca Juga : Kisah Hany Scraft Pasuruan, UMKM Rajut Bayi yang Tembus Pasar Internasional Berdayakan 64 Perajin

Berdasarkan informasi resmi BMKG, puncak musim kemarau pada Agustus diproyeksikan mencakup sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia. Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut hingga September, meski cakupannya menyusut menjadi sekitar 25,41 persen wilayah.

Situasi ini juga diiringi meningkatnya potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan di sejumlah daerah. Karena itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang rawan terdampak.

Daftar Wilayah yang Mengalami Puncak Musim Kemarau Agustus 2026

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau pada Agustus akan melanda wilayah berikut:

• Sumatra bagian tengah

• Sebagian besar Pulau Jawa

• Bali

• Nusa Tenggara Barat (NTB)

• Sebagian Nusa Tenggara Timur (NTT)

• Sebagian besar Kalimantan

• Sebagian Sulawesi

• Sebagian Maluku dan Maluku Utara

• Sebagian besar Pulau Papua

Sementara itu, pada September 2026, puncak musim kemarau diperkirakan bergeser ke wilayah:

• Kepulauan Bangka Belitung

• Sebagian besar Sumatra Selatan

• Lampung

• Sebagian kecil Pulau Jawa

• Sebagian besar Nusa Tenggara Timur

• Kalimantan bagian selatan

• Sebagian besar Sulawesi

• Sebagian besar Maluku Utara

• Sebagian wilayah Maluku

• Papua Pegunungan bagian tengah.

BMKG mencatat hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Sementara itu, sebanyak 77 ZOM atau sekitar 11,8 persen masih mengalami musim hujan. Adapun 113 ZOM lainnya atau sekitar 33,7 persen berada di wilayah dengan pola satu musim.

Baca Juga : Polresta Malang Kota Lolos Nominasi Kompolnas Awards 2026, Siap Jalani Visitasi Penentu

BMKG Ingatkan Risiko Kekeringan dan Karhutla

Seiring menguatnya musim kemarau, BMKG mengingatkan adanya peningkatan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.

Wilayah yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi meliputi:

• Riau

• Jambi

• Sumatra Selatan

• Kalimantan Barat

• Kalimantan Tengah

• Papua Selatan

Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi sebanyak 5.019 titik panas di Indonesia. Sebaran terbanyak berada di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Selain itu, partikel asap akibat karhutla juga mulai terpantau di wilayah Kalimantan Barat.

Selain lebih kering, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.

BMKG memperkirakan sebanyak 437 ZOM atau sekitar 48,77 persen wilayah Indonesia akan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang.

Curah hujan dengan kategori tinggi diperkirakan baru mulai meningkat secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.

Di beberapa daerah, hari tanpa hujan juga tercatat cukup panjang. Rekor terlama terjadi di Pos Hujan Katerban, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang mengalami 80 hari tanpa hujan.

BMKG juga memprediksi fenomena El Nino masih akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan indeks bulanan Niño 3.4 pada akhir Juni 2026 telah mencapai angka 1,56. Nilai tersebut menunjukkan intensitas El Nino telah melampaui ambang kategori kuat, yakni di atas 1,5.

"Namun, perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Nino bertemu langsung dengan musim kemarau," kata Ardhasena dalam keterangan resmi BMKG, Kamis (30/7) lalu.

Ia menambahkan, meskipun El Nino diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, dampak terbesarnya bagi Indonesia diperkirakan terjadi selama periode musim kemarau.

Selain El Nino, BMKG juga memantau peluang munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026. Jika kedua fenomena tersebut terjadi secara bersamaan, potensi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia dapat semakin meningkat.

Saat ini, suhu permukaan laut di Samudra Hindia tercatat sebesar -0,387, yang menunjukkan peluang signifikan berkembangnya IOD positif dalam beberapa bulan mendatang.

Dampak Bagi Masyarakat

Musim kemarau yang lebih panjang tidak hanya menyebabkan cuaca terasa lebih panas, tetapi juga berpotensi mengurangi ketersediaan air bersih, mengganggu aktivitas pertanian, hingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Di beberapa daerah, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi produktivitas pertanian dan memicu gangguan kualitas udara apabila terjadi karhutla.

Karena itu, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak, menghindari aktivitas pembakaran lahan atau sampah di area terbuka, serta terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat di wilayah rawan diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau. Dengan kewaspadaan sejak dini, dampak kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan diharapkan dapat diminimalkan.


Topik

Peristiwa Kemarau puncak kemarau karhutla kebakaran hutan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pamekasan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa