Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Nasional Tetap Terjaga di Tengah Gejolak Ekonomi Global

Penulis : Nur Hidayah - Editor : Yunan Helmy

05 - Aug - 2026, 18:26

Placeholder
Foto dokumentasi rapat Dewan Komisaris OJK.

JATIMTIMES – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional hingga pertengahan 2026 tetap berada dalam kondisi yang terjaga meskipun perekonomian global masih menghadapi berbagai tantangan. Ketidakpastian akibat meningkatnya tensi geopolitik, perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, serta dinamika kebijakan perdagangan internasional dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap ketahanan sistem keuangan Indonesia.

 Hal tersebut disampaikan dalam hasil rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang dilaksanakan pada 29 Juli 2026. OJK menilai fundamental sektor jasa keuangan nasional masih kuat berkat dukungan bauran kebijakan fiskal dan moneter yang berjalan secara sinergis, sehingga mampu menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Baca Juga : Tak Sekadar Fasih Berbahasa Inggris, Mahasiswa Humaniora UIN Malang Sabet Most Expressive Storyteller

 Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menjelaskan bahwa kondisi global kembali menghadapi tekanan setelah gagalnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan premi risiko di pasar keuangan internasional.

 Selain faktor geopolitik, Dana Moneter Internasional (IMF) juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3 persen, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 3,1 persen. Penurunan proyeksi tersebut dipengaruhi oleh konflik yang berkepanjangan di sejumlah kawasan, meskipun peningkatan investasi pada sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperkirakan dapat menjadi salah satu faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi dunia.

 Di sisi lain, kebijakan tarif baru yang diterapkan Amerika Serikat terhadap puluhan negara mitra dagang turut meningkatkan ketidakpastian perdagangan internasional. Kondisi tersebut menyebabkan volatilitas pasar keuangan global masih relatif tinggi dan memengaruhi pergerakan arus modal internasional.

 "Kenaikan tekanan di pasar energi global serta pengenaan tarif baru membuat premi risiko global tetap tinggi dan volatilitas harga komoditas berpotensi berlanjut," ungkap Friderica Widyasari Dewi dalam keterangan tertulis pada Rabu (5/08/2026).

 OJK mencatat perkembangan ekonomi di berbagai negara masih menunjukkan kondisi yang beragam. Aktivitas manufaktur di negara-negara maju mulai mengalami pemulihan yang lebih kuat, sementara negara berkembang masih menghadapi tantangan dalam mempercepat ekspansi sektor industrinya.

 Di Amerika Serikat, inflasi mulai bergerak menuju level yang lebih terkendali dengan aktivitas ekonomi yang tetap stabil. Sebaliknya, perekonomian Tiongkok pada kuartal II 2026 mencatat pertumbuhan paling rendah sejak akhir 2022 akibat lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta, meski sektor ekspor masih menjadi penopang utama. Sementara itu, kawasan Eropa dan Inggris juga menunjukkan tren penurunan inflasi yang memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

 Di tengah berbagai tantangan global tersebut, kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih mampu menunjukkan ketahanan yang baik. Inflasi nasional pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,88 persen secara tahunan (year on year), masih berada dalam kisaran sasaran pemerintah. Aktivitas sektor manufaktur juga kembali memasuki fase ekspansi dengan Purchasing Managers' Index (PMI) sebesar 50,2 yang mencerminkan meningkatnya optimisme pelaku industri terhadap prospek ekonomi nasional.

Baca Juga : FHI 2026 Jadi Ajang Workshop dan Masterclass Chef Profesional

 Menurut OJK, capaian tersebut menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal. Stabilitas nilai tukar, terkendalinya inflasi, serta koordinasi yang erat antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan Lembaga Penjamin Simpanan menjadi faktor utama yang menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian nasional.

 Di sektor jasa keuangan, industri perbankan juga dinilai tetap memiliki tingkat permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta kualitas aset yang terjaga sehingga mampu menjalankan fungsi intermediasi secara optimal. Penyaluran kredit kepada sektor produktif diharapkan terus meningkat guna mendukung investasi, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

 OJK menegaskan akan terus memperkuat pengawasan berbasis risiko, meningkatkan perlindungan konsumen, serta mendorong transformasi digital industri jasa keuangan agar tetap adaptif terhadap perubahan lingkungan ekonomi global. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus meningkatkan daya saing industri keuangan nasional.

 Ke depan, OJK akan terus memantau perkembangan geopolitik, arah kebijakan moneter negara-negara maju, pergerakan harga komoditas, serta dinamika pasar keuangan internasional sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan sektor jasa keuangan Indonesia. Dengan fundamental ekonomi yang tetap solid dan koordinasi kebijakan yang kuat, Indonesia diharapkan mampu mempertahankan stabilitas sistem keuangan sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.


Topik

Ekonomi OJK Otoritas Jasa Keuangan sektor jasa keuangan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pamekasan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Nur Hidayah

Editor

Yunan Helmy