Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

UB Ubah Wajah PKKMB: Mahasiswa Baru Disiapkan Hadapi AI, Krisis Mental hingga Dunia Global

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

10 - Aug - 2026, 14:09

Placeholder
Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Brawijaya (UB) (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Memasuki perguruan tinggi kini tidak cukup hanya dengan kemampuan akademik. Mahasiswa juga berhadapan dengan tekanan kesehatan mental, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), lingkungan yang semakin multikultural, perubahan kebutuhan dunia kerja, hingga tuntutan untuk mampu beradaptasi dengan persoalan keberlanjutan.

Persoalan tersebut menjadi bagian penting yang dibawa Universitas Brawijaya (UB) melalui Raja Brawijaya 2026, rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang mulai berlangsung Senin (10/8/2026).

Baca Juga : Angkutan Pelajar Jadi Harapan Baru Angkot Kota Malang, Kapan Terealisasi?

Alih-alih menjadikan orientasi sebagai sekadar pengenalan lingkungan kampus, UB memasukkan lima isu utama ke dalam penyelenggaraan tahun ini, yakni kesehatan mental dan anti kekerasan seksual, inklusivitas, perspektif global, AI dan digitalisasi, serta keberlanjutan.

Tema yang diangkat pun menempatkan persoalan tersebut dalam konteks yang lebih luas, yakni “Gelora Brawijaya: Membentuk Generasi Transformatif yang Inklusif, Inovatif, Berwawasan Global, dan Berkelanjutan untuk Indonesia Emas 2045”.

1

Raja Brawijaya tingkat universitas berlangsung pada 10-12 Agustus 2026. Setelah itu, kegiatan berlanjut di masing-masing fakultas pada 13-15 Agustus 2026.

Ketua Pelaksana Raja Brawijaya 2026 Daffa Yasa Pratama mengatakan, perubahan konsep tahun ini tidak terlepas dari posisi UB yang ingin memperkuat orientasi mahasiswa baru dengan perspektif internasional.

“Kita ingin menjadi world class university orientation. Sehingga, PKKMB-nya harus memiliki standar mendukung arah tersebut. Menonjolkan sisi internasionalisasi,” kata Daffa.

Orientasi menuju kampus berkelas dunia itu diterjemahkan melalui keterlibatan mahasiswa internasional dari berbagai negara dalam rangkaian kegiatan. Kehadiran mahasiswa dari latar belakang berbeda menjadi bagian dari upaya memperkenalkan mahasiswa baru pada lingkungan akademik yang semakin terkoneksi dengan komunitas global.

Bagi mahasiswa yang baru meninggalkan bangku sekolah menengah, perubahan tersebut juga berarti berhadapan dengan ekosistem belajar yang berbeda. Mereka dituntut lebih mandiri dalam menentukan aktivitas akademik maupun nonakademik, sekaligus mulai menyusun arah pengembangan diri.

Direktur Direktorat Kemahasiswaan UB Dr. Sujarwo, S.P., M.P. mengatakan, fase awal tersebut penting karena mahasiswa perlu memiliki ekspektasi terhadap kapasitas yang dapat mereka kembangkan selama berada di kampus.

“Kita dengan tangan terbuka menyambut mahasiswa baru dan kemudian kita menunjukkan wajah terbaik Universitas Brawijaya, sehingga mahasiswa baru punya ekspektasi untuk meningkatkan kapasitas tertinggi yang bisa mereka capai, baik dalam kegiatan akademik maupun dalam kegiatan kemahasiswaan,” ujarnya.

Namun, kesiapan mahasiswa tidak hanya dilihat dari kemampuan akademik. UB secara khusus memasukkan kesehatan mental sebagai salah satu isu utama dalam Raja Brawijaya 2026.

Screening kesehatan mental dilakukan ketika mahasiswa baru mengambil jas almamater. Pendekatan tersebut dilengkapi kampanye digital dan penyediaan konselor selama rangkaian PKKMB.

Langkah ini menempatkan kesehatan mental bukan semata persoalan yang ditangani ketika mahasiswa menghadapi masalah, tetapi mulai dikenalkan sejak mereka memasuki lingkungan perguruan tinggi.

Baca Juga : Temui PCNU, Kapolresta Malang Kota Bahas Kekerasan Seksual hingga Fenomena Sosial

Isu anti kekerasan seksual juga ditempatkan dalam rumpun perhatian yang sama. Dengan demikian, mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan pada ruang akademik, tetapi juga pada batas-batas perilaku dan pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman serta inklusif.

Di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, persoalan lain yang mulai masuk ke ruang orientasi adalah bagaimana mahasiswa beradaptasi dengan AI dan digitalisasi. UB tidak hanya membicarakan teknologi sebagai materi pengenalan. Implementasinya justru terlihat dalam sistem penyelenggaraan Raja Brawijaya 2026.

Panitia mengembangkan Integrated System Managerial Raja Brawijaya untuk mendukung pengelolaan kepanitiaan secara digital. Mahasiswa baru juga memperoleh aplikasi yang memiliki sejumlah fitur pendukung, termasuk Maps dan AI assistant untuk membantu mendapatkan informasi selama mengikuti rangkaian kegiatan.

Masuknya AI ke dalam orientasi mahasiswa menjadi relevan karena teknologi tersebut berpotensi mengubah cara mahasiswa belajar, mencari informasi, mengerjakan tugas hingga mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi perlu memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang ditimbulkannya.

Rektor UB Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc. menempatkan masa awal perkuliahan sebagai fase untuk membangun pola belajar dan pengembangan diri mahasiswa.

“Raja Brawijaya, gerbang awal bagi adik-adik mahasiswa, untuk memasuki kehidupan sebagai mahasiswa UB. Jadikan masa perkuliahan sebagai ruang belajar, berproses, berkolaborasi. Mempersiapkan diri memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan Indonesia,” ujarnya.

Persoalan keberlanjutan juga menjadi bagian dari lima isu yang dibawa tahun ini. Isu tersebut memperluas orientasi mahasiswa dari persoalan internal kampus menuju tantangan sosial dan lingkungan yang lebih besar.

Sementara itu, format kegiatan dibuat tidak sepenuhnya formal. Program Candra Sena Ambassador menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa baru untuk terlibat sebagai agen kampanye positif sekaligus mendorong lahirnya inspirasi dan prestasi di lingkungan mahasiswa.

Bagi Daffa, ukuran keberhasilan orientasi bukan berhenti ketika rangkaian kegiatan selesai. Mahasiswa justru diharapkan mulai memiliki gambaran mengenai apa yang ingin mereka capai selama menjalani pendidikan di UB.

“Raja Brawijaya ini ibarat gerbang bagi mereka untuk memasuki dunia perkuliahan. Harapannya mahasiswa baru siap secara fisik, mental, dan kesehatan, punya milestone setelah Raja Brawijaya ini akan ke mana, serta punya planning ketika di kuliah mereka akan mengikuti apa saja dan akan bekerja di mana,” katanya.


Topik

Pendidikan UB PKKMB Mahasiswa Baru Universitas Brawijaya AI Krisis Mental Dunia Global



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pamekasan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan