Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Prabowo Sebut Karhutla Dulu Lebih Parah, Benarkah?

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

25 - Aug - 2026, 10:29

Placeholder
Potret kebakaran hutan di Lamandau, Kalimantan Tengah. (Foto: Threads)

JATIMTIMES - Presiden Prabowo Subianto menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun-tahun sebelumnya pernah jauh lebih parah dibanding kondisi saat ini.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo setelah melihat langsung penanganan karhutla di Kalimantan. Ia menjelaskan pemerintah terus melakukan mitigasi untuk menghentikan meluasnya kebakaran sekaligus mencegah munculnya titik api baru.

Baca Juga : Bangun Keluarga Harmonis, Kodim 0808/Blitar Bekali Prajurit dan Persit Ilmu Parenting

"Saya kira ya kita. Saya sudah lihat situasi, kita ikuti terus. Kita ambil langkah-langkah ya, mitigasi. Yang penting kita segera hentikan perluasan penambahan titik api," kata Prabowo,  Selasa (25/8/2026).

Pemerintah pusat, kata Prabowo, juga terus memenuhi kebutuhan daerah dalam menangani karhutla. Bantuan tersebut antara lain berupa helikopter water bombing, peralatan pemadaman hingga mesin bor untuk mencari sumber air.

"Alhamdulillah ini berjalan terus. semua pejabat melaporkan kebutuhan-kebutuhannya, kita berusaha penuhi. Tiap hari kita tambahkan helikopter-helikopter, alat-alat, mesin bor untuk air, semua perlengkapan kita penuhilah," ujarnya.

Prabowo optimistis kondisi karhutla dapat segera dikendalikan. Dia berkaca pada kejadian karhutla pada tahun-tahun sebelumnya yang menurutnya memiliki kondisi lebih parah.

"Jadi, saya berharap kita segera bisa kembali kendalikan. Dan kalau kita lihat sejarah... tahun-tahun, berapa tahun-tahun yang dulu, sangat lebih parah, kita mampu atasi. Jadi, saya percaya ini segera kita atasi," ujarnya.

Lantas, benarkah karhutla tahun-tahun sebelumnya lebih parah? Data yang disampaikan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menunjukkan kondisi karhutla di Kalimantan sepanjang 2026 memang mengkhawatirkan.

Dalam catatan Walhi periode 1 Januari hingga 27 Juli 2026, terdapat 34.262 titik panas di Pulau Kalimantan. Luas indikatif areal yang terbakar mencapai 33.837 hektare. Data tersebut tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. 

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. WAlhi mencatat terdapat 17.236 titik panas dengan luas indikatif karhutla mencapai 28.680 hektare hingga 27 Juli 2026. 

Angka tersebut menjadi sorotan karena luasan karhutla di Kalimantan Barat hingga pertengahan 2026 telah melampaui luasan kebakaran sepanjang 2025 yang disebut mencapai 26.703 hektare.

Baca Juga : ODGJ Amuk dan Rusak Kos-Kosan, Selesai dengan Damai

Hal tersebut turut disoroti Co-Founder Malaka Project Cania Citta melalui akun Instagram pribadinya. "Dari Januari 2026, awal tahun ini, sampai dengan bulan Juli 2026, Walhi mencatat ada 34.262 titik panas dan 33.837 hektare area yang terbakar di Kalimantan," kata Cania.

Ia kemudian membandingkan kondisi Kalimantan Barat pada 2026 dengan tahun 2025. "Di wilayah Kalimantan Barat, yang merupakan wilayah paling terdampak karhutlah, area yang terbakar dari awal Januari sampai dengan Juni 2026 itu sebanyak 28.680 hektare," ujarnya.

"Artinya, luas area terdampak kebakaran dalam satu tahun, tahun lalu, itu lebih kecil dibanding tahun ini dalam durasi hanya sekitar 5-6 bulan gitu kan. Kita bisa tahu bahwa karhutlah di Kalimantan itu memburuk," sambungnya.

Data Walhi juga menyoroti lokasi titik panas. Dari 34.262 hotspot di Kalimantan, sebanyak 25.524 titik atau sekitar 74% berada di kawasan konsesi perusahaan. Rinciannya, 10.739 hotspot berada di kawasan HGU perkebunan kelapa sawit, 7.880 titik di konsesi pertambangan dan 6.905 titik berada di kawasan PBPH. 

Cania menilai persoalan karhutla tidak cukup dilihat hanya dari sisi pemadaman. Praktik pembukaan lahan juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan, khususnya di kawasan gambut.

"Bakaran gambut seperti ini terjadi karena praktik tebang bakar. BNPB dan dokumen perencanaan kebencanaan pemerintah sama-sama mencatat bahwa sebagian besar kasus berkaitan dengan faktor antropogenik alias ulah manusia," kata Cania. 


Topik

Peristiwa Karhutla kebakaran hutan dan lahan Presiden Prabowo Subianto Prabowo



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pamekasan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa